Bencana 23 April 2007

Setelah istirahat, gue dan anak-anak sekelas belajar di ruang audio visual, nonton drama HL yang dibawain sama kelompok Caesar, ceritanya gue ga ngerti, karena gue lagi asyik foto-foto sama Nokia N95-nya Rina, gue sempet mau curi tapi takut ketahuan, Rina kan anak tajir, bisa-bisa dia udah beli alat pendeteksi di handphone-nya (bercanda, jangan kira gue tersangka dalam tragedi hilangnya 8 handphone di sekolah gue itu).

Nah mari kita masuk ke inti cerita, jadi setelah drama yang ga gue ngerti itu selesai, gue dan teman-teman berjalan keluar ruangan audio visual dan membuka pintu, tapi ASTAGHFIRULLAH, ASTAGA, ASTI… hujan diluar gede banget kaya perut Asti, sampai pot-pot pada jatuh (karena ditendang), kertas-kertas di mading pada berserakan di lantai (karena dicopotin), cahaya-cahaya kilat yang mengejutkan (hasil jepretan anak-anak dengan handphone yang sudah ada blits-nya, cie…), bahkan di lantai 3 ada tsunami mini (karena tempat nampung air ditumpahin anak-anak). Air dari tampunganannya itu kan banyak banget, sampai-sampai masuk ke dalam ruangan kelas X, mungkin anak-anak kelas X yang lagi belajar sempat panik, kaget, panik, resah dan panik…, "kok bisa-bisanya ada air di lantai 3? jangan-jangan air udah tinggi sampai lantai 3.…", , mungkin sebagian dari mereka merekam kejadian tsunami mini itu untuk dikirim ke Metro TV, mungkin juga sebagian dari yang lain mengucapkan "La Illahilallah". soalnya katanya karena hebatnya hujan sore itu, anak-anak di kelas XI IPA 2 pada mengira itu kiamat, sampai-sampai salah seorang dari mereka memimpin doa. GUBRAK! Tapi, disaat situasi seperti itu, ternyata masih ada juga beberapa orang-orang yang bergembira dan berharap 28 hanyut diterpa hujan. Alhamdulillah…

Satu hal yang patut dicontoh, dalam keadaan badai seperti itu pun, guru Kewarganegaraan terus berjalan ditengah badai menaiki anak-anak tangga menuju kelas kami. Angin kencang menghempas badannya, hujan deras mengelabui pandangannya, doa murid menghalangi jalannya. Namun ia tetap bersikukuh untuk mengajar agar siswa-siswinya kelak menjadi orang yang pinter, tukang maksa dan tidak peduli situasi dan kondisi.

TETEP YA 28…..

gilee, khusu’ bener jadi guru, kelas udah kaya kapal Titanic kebelah 3 gitu masih aja dipaksa belajar, walau akhirnya anak-anak kelas gue disuruh belajar di audio visual lagi, tapi ternyata ruang audio visual sudah ditempati, bahkan ada tiga kelas!!! XI IPA 1, XI IPA 2, XI IPA 3 nyampur semua di ruangan tersebut. berhubung kelas XI IPA 1 sedang mementaskan drama HL jadi untuk dua kelas yang lain tidak mungkin bisa belajar. klu tetep belajar mah gila aja, IPA 1 ngomong bahasa Inggris sambil ketawa-ketawa, IPA 2 ngomong arab sambil merenung, IPA 3 ntar teriak-teriak "Merdeka". sepertinya Bu Eliza (guru kewarganegaraa) sudah menyerah, akhirnya ia duduk di pojokan sambil menyaksikan drama HL, dari gerak-geriknya yang gue perhatiin dari jauh sih dia lagi ketakutan sambil berbisik ngawur, "haaaah… air… air… takut air… riau… riau bukan aceh… aku dari riau… tidak ada… tidak ada air… kyaaaaa!".

Ruang audio visual yang tadinya harum seperti bioskop berubah aromanya menjadi kaos kaki basah, suwer ga enak banget, pengep pula. mungkin karena bau itu sehingga otak Siki (temen gue, anggota Trio Virgin) mulai ngawur.

Deni: "itu.. itu… awas Sik ada tikus"

Siki: "ngapain?" <- ga nyambung, koordinasi otak dan mulutnya udah ga sinkron.

terus si Deni cerita tentang temen SMP-nya yang yang selamat dari bencana Tsunami Aceh. katanya dia selamat karena bawa kabur motor temannya waktu sedang main bola, padahal temennya udah hanyut oleh tsunami 7 meter itu! oh jahatnya! terus katanya klu mau nakutin dia cukup dengan berkata, "air!!!", lalu teman-temannya tertawa lepas.

Kondisi sekolah udah berantakan banget, kasian sih yang tukang bersihin sekolah, pasti bakal capek banget dan bilang ke guru-guru, "ibu… bapak… Astaghfirullah ya, badai kali ini bener-bener mengacau-balaukan keindahan sekolah". padahal ia tidak tau fakta-fakta dibalik Bencana 23 April itu.

hee…he…heee (ketawa licik).

Leave a Reply